Menolak Lupa Sejarah: Benarkah Profesi Apoteker Lahir dari Jalur Vokasi?
Sadar Sejarah


Pernahkah Anda mendengar anggapan bahwa profesi Apoteker di Indonesia itu "tumbuh dan berkembang" dari tenaga vokasi atau asisten apoteker (yang kini kita kenal sebagai Tenaga Vokasi Farmasi/TVF)? Selintas, narasi ini terdengar masuk akal karena asisten apoteker memang eksis lebih dulu di tanah air. Namun, sebuah kajian kritis historis justru membongkar bahwa klaim tersebut merupakan sebuah distorsi sejarah yang serius.
Mari kita bedah secara santai bagaimana fakta sejarah yang sebenarnya!
Strategi "Pragmatis" Kolonial Belanda
Untuk memahami akarnya, kita harus mundur ke era Hindia Belanda. Kala itu, gelar "Apoteker" (apotheker) adalah profesi eksklusif yang sangat elit. Mereka adalah sarjana berpendidikan tinggi akademik yang didatangkan langsung dari Eropa.
Pemerintah kolonial secara sengaja menutup akses pendidikan tinggi farmasi bagi kaum pribumi (inlander). Agar kebutuhan tenaga di lapangan tetap terpenuhi dengan biaya murah, diciptakanlah jalur asisten apoteker melalui sistem magang dan sekolah setingkat SMP (MULO). Jadi sejak awal, jalur vokasi ini memang didesain bukan sebagai cikal bakal apoteker, melainkan sebagai lapis kedua dalam sistem kesehatan kolonial yang diskriminatif.
Dua Jalur Sejajar Setelah Merdeka
Titik balik paling telak untuk membantah klaim "apoteker tumbuh dari vokasi" terjadi saat fajar kemerdekaan menyingsing. Pendidikan tinggi farmasi pertama di Indonesia justru lahir mendahului pembentukan institusi vokasi negara merdeka.
27 September 1946: Kementerian Kesehatan mendirikan Perguruan Tinggi Ahli Obat (PTAO) di Klaten yang menjadi cikal bakal Fakultas Farmasi UGM. Jalur ini murni akademik (menerima lulusan SMA/setara) demi mencetak apoteker sejati.
13 Februari 1946: Lahirlah PAFI (Persatuan Ahli Farmasi Indonesia) sebagai wadah asisten apoteker.
Catatan Kritis: PAFI memang lahir sembilan tahun lebih dulu daripada IAI (Ikatan Apoteker Indonesia) yang baru berdiri tahun 1955. Namun, urutan waktu ini bukan berarti kausalitas. IAI lahir belakangan semata-mata karena universitas kita membutuhkan waktu untuk mencetak alumni apoteker yang cukup banyak guna mendirikan organisasi.
Mitos "Apotek Darurat"
Satu argumen yang kerap digoreng adalah fenomena Apotek Darurat pada periode 1950-1967, di mana asisten apoteker diberi izin memimpin apotek sendiri.
Apakah ini bukti evolusi profesi? Sama sekali bukan. Regulasi tersebut terpaksa dikeluarkan oleh pemerintah sebagai respons krisis akibat kelangkaan apoteker pasca-kolonial. Begitu jumlah apoteker lulusan universitas sudah mencukupi pada tahun 1963, izin apotek darurat ini resmi disetop. Logikanya: mengizinkan mekanik menyetir ambulans saat situasi gawat darurat tidak serta-merta menjadikan mekanik tersebut sebagai cikal bakal profesi dokter.
Kesimpulan
Apoteker dan Asisten Apoteker (TVF) adalah dua jalur paralel dengan akar epistemologi yang berbeda. Jalur vokasi lahir dari tradisi magang praktis, sementara profesi Apoteker lahir dari tradisi akademik universitas.
Menghormati sejarah berarti menempatkan keduanya secara adil. Tenaga Vokasi Farmasi punya sejarah panjang yang mandiri dan sangat berjasa sejak masa revolusi, tanpa harus dipaksa menjadi "asal-usul" profesi Apoteker. Keduanya adalah mitra komplementer yang berjalan beriringan demi kesehatan bangsa, bukan anak dan orang tua dalam hierarki linier.
